Saturday, July 10, 2021

Fakta Tentang Ivermectin Yang Harus Anda Ketahui

Di tengah lonjakan kasus infeksi virus corona, Menteri BUMN Erick Thohir mengumumkan bahwa perusahaan farmasi milik pemerintah, PT Indofarma (Persero) Tbk telah berhasil membuat obat yang membantu penyembuhan Covid-19. Benarkah ada obat untuk Covid-19?

Obat yang diklaim bisa membantu penyembuhan Covid-19 adalah Ivermectin. Obat ini bahkan saat ini sudah mendapatkan izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan.

Obat ini sudah di produksi secara masal untuk kebutuhan masyarakat saat ini yang di landa pandemi virus korona. Di harapkan obat ini bisa mengurangi jumlah pasien virus korona yang saat ini di Indonesia sudah banyak. Dan perlu mendapatkan perhatian khusus saat ini.

Badan pengawas obat dan makanan sendiri saat ini masih mengeluarkan rekomendasinya untuk obat ini untuk penyembuhan dari obat cacing saja. Namun khasiat dari obat ini saat ini masih memerlukan uji klinis untuk khasiatnya. Ini bertujuan untuk lebih menyempurnakan lagi khasiat dari obat ini agar bisa membantu lebih banyak lagi pasien virus korona di Indonesia.

Fakta Tentang Ivermectin Yang Harus Anda Ketahui

Perlu uji klinis

Butuh dukungan ilmiah lebih lanjut untuk penggunaan Ivermectin sebagai obat terapi Covid-19 di Indonesia. Dukungan ilmiah yang ia maksud adalah uji klinis. Harga Ivermectin 12 mg saat ini sudah banyak beredar di Internet.

Mengingat, Ivermectin mengandung bahan kimia keras yang bisa menimbulkan beragam efek samping. Meski ditemukan adanya indikasi ini membantu penyembuhan, tetapi Ivermectin belum bisa dikategorikan sebagai obat Covid-19.

Fakta seputar Ivermectin

BPOM memberikan keterangan pers terkait simpang-siur penggunaan Ivermectin sebagai obat terapi Covid-19 di Indonesia. Berikut fakta-fakta terkait Ivermectin :

Ada potensi

BPOM menyebut, pada penelitian untuk pencegahan maupun pengobatan Covid-19 sempat menyatakan bahwa Ivermectin memiliki potensi antiviral pada uji secara in-vitro di laboratorium. Akan tetapi, belum ada bukti ilmiah yang lebih meyakinkan terkait keamanan, khasiat, dan efektivitasnya sebagai obat Covid-19. Bukti ilmiah itu baru bisa dilakukan melalui uji klinik lebih lanjut.

Obat cacing

Sejauh ini, izin edar penggunaan obat Ivermectin yang beredar hanya untuk indikasi infeksi kecacingan (Strongyloidiasis dan Onchocerciasis). Ivermectin kaplet 12 mg memang terdaftar di BPOM.

Obat ini diberikan dalam dosis tunggal 150-200 mcg/kg Berat Badan dengan pemakaian setahun sekali. Ivermectin pun merupakan obat keras yang pembeliannya harus dengan resep dokter dan penggunaannya di bawah pengawasan dokter.

Efek samping

Ivermectin yang digunakan tanpa indikasi medis dan tanpa resep dokter dalam jangka waktu panjang dapat mengakibatkan beberapa efek samping. Efek samping tersebut, antara lain nyeri otot atau sendi, ruam kulit, demam, pusing, sembelit, diare, mengantuk, dan Sindrom Stevens-Johnson.

Kadaluarsa

Produksi Ivermectin untuk pengobatan pada manusia di Indonesia masih tergolong baru. Oleh sebab itu, Badan POM memberikan batas waktu kedaluwarsa selama 6 bulan terhadap obat tersebut. Masyarakat diimbau untuk tidak menggunakan obat tersebut lebih dari 6 bulan dari tanggal produksi yang tertera pada kemasan.

Jangan beli online

BPOM menemukan banyak Ivermectin yang dijual bebas melalui platform online. Sebagai bentuk kehati-hatian, BPOM meminta kepada masyarakat agar tidak membeli obat Ivermectin secara bebas tanpa resep dokter, termasuk melalui platform online.

Ivermectin hanya boleh digunakan sesuai resep dokter. Apabila mendapatkan resep dokter, maka bisa membeli Ivermectin di fasilitas pelayanan kefarmasian yang resmi, seperti apotek dan rumah sakit.

Itulah fakta-faktar tentang Ivermectin. Sebelum menggunakan Ivermectin untuk obat terapi Covid-19, konsultasikan dengan dokter.